Senin, 03 Juni 2013

My Winter Love (part 3)


-NK’s POV-

Sudah hampir 1 jam aku menunggu Haeyoung, tapi anak itu tak kunjung keluar. Sekolah sudah tampak sepi, ku putuskan untuk mencari di kelasnya.
“Junho?? Siapa Junho??” aku mendengar suara yang membicarakan Junho, namun aku berusaha untuk mengabaikannya
“Sepertinya orang itu sangat berarti!” katanya lagi, dan aku melihat seorang namja berjalan ke arah ku dengan muka bingung, dan namja itulah yang berkata-kata tentang Junho
“Chogiyeo, apa kau melihat Haeyoung??” aku bertanya padanya
“Haeyoung?? Gadis dengan rambut sebahu??” katanya berbalik tanya kepadaku
“Nde, kau melihatnya??” kataku antusias
“Sepertinya tadi aku melihatnya di kelas, keundae...” sebelum dia menyelesaikan kalimatnya aku segera berlari ke kelas Haeyoung
Kulihat Haeyoung sedang menatap kosong ke langit. Aku berjalan mendekatinya dan memnaggilnya
“Haeyoung-aa, kau membuat oppa takut. Kau tidak keluar dari tadi, aku kira kau kenapa-napa. Kau tak boleh mangulanginya lagi ya??” kataku lembut
“Nde oppa, mian” katanya sangat lirih, tapi aku tahu dia barusaja menangis
“Kau habis menangis??” tanya ku
Ia hanya mengengguk pertanda ‘ya’
“Kau ini bagaimana sih??” kataku sedikit meninggikan nada “Kau tak mau melihat Junho bahagia disana?? Apa kau mau Junho juga bersedih karena mu??” kataku sedikit membentak
Haeyoung tak bergeming, air matanya semakin deras. Aku rasa aku sedikit kasar padanya, tak seharusnya aku membentaknya. Walau aku juga sangat sayang pada Junho yang telah aku anggap sebagai deongsaeng ku sendiri.
“Miann... aku tak bermaksud membentakmu” kataku sambi memeluknya
“Anii, hikss... oppa hikss.. tidak salah, hikss...” katanya di sela-sela tangisnya
“Sekarang kita pulang ya?” ujarku seraya melepaskan pelukanku dan menariknya keluar

-WY’s POV-

“Kau ini bagaimana sih??” sebuah suara yang sedikit membentak “Kau tak mau melihat Junho bahagia disana?? Apa kau mau Junho juga bersedih karena mu??” kata seorang pria yang berdiri di depan Haeyoung
Junho? Kenapa Junho lagi siapa Junho? Dan apa hubungannya dengan Haeyoung? Mr. Park juga? Aku semakin bingung dengan semua ini. Sejak gadis itu masuk sekolah, semuanya berubah, semua selalu membicarakan Junho yang tak jelas itu. Pria itu membawa Haeyoung keluar, aku hanya tetap bersembunyi di balik koridor.
“Oppa.. bisakah kita menjenguk Junho sekarang?” suara Haeyoung bergetar
“Baiklah” kata pria yang bersamanya
Ingin aku mengikutinya, namun telepon ku berbunyi, aku kaget setelah melihat nama yang tertera di layar.
“Gawat... aku terlambat” kataku pada diri sendiri “Yoboseo.. Appa, mian aku terlambat, ada sedikit masalah di sekolah” kataku terburu-buru
“Baiklah, Appa tunggu 15 menit lagi” kata Appa sedikit mengancam
“Nde” aku segera lari ke mobilku dan menuju ke rumah dengan secepat mungkin
-
“Wooyoung, palli!!” seru Appa padaku
“Nde” aku berlari mengahampiri Appa “Mian Appa” kataku sambil terengah-engah
“Kajja, kasian keluarga Lee sudah mengunggu” katanya sambil menyeretku masuk
“Miann, uri Wooyoung ada sedikit urusan, jadi dia agak terlambat” kata Eomma yang ku dengar saat aku dan Appa memasuki rumah “Nahh.. itu Wooyoung! Wooyoung palli” kata Eomma sambil tersenyum kepadaku
“Sungguamita!” katu sopan dan membungkuk
“Anii, aku bisa mengerti masalah anak muda” kata Mrs. Lee yang tersenyum padaku
Makan malam ini aku sebenarnya tidak ingin melakukannya, namun aku juga tak mau Appa mengurungku dalam rumah lagi. Jadi mau tak mau harus aku ikuti. Sesungguhnya makan malam ini hanya akan menjodohkanku dengan putri keluarga Lee, namun aku masih tak mau berurusan dengan gadis, dan berbicara soal gadis, aku jadi teringat dengan Haeyoung. Sebenarnya dia gadis yang cantik namun sesuatu telah merebut senyumnya.

-HY’s POV-

Hari ini aku mengunjungi Junho lagi, aku menatap kosong pada batu nisan yang tertulis namanya. Berusaha keras aku tidak menangis, aku tak mau membuat Khun Oppa marah lagi dan menyusahkannya lagi. Setelah hampir 30 menit aku duduk di samping pusaranya, aku beranjak pergi dan menghampiri Khun opaa yang menunggu ku di mobil
“Mian, aku lama sekali” aku merasa bersalah pada Khun oppa
“Anii, aku sudah terbiasa menunggu” katanya sambi tersenyum manis padaku
Aku membalasnya dengan sedikit senyum di wajahku, dan aku kira Khun oppa malah merasa kasian terhadapku yang memaksakan untuk tersenyum
-
“Haeyoung-a, kau tahu? Neomo saranghae!” kata seorang pria yang berada di samping ku
“Nde, na-do saranghae” jawabku sambil bersandar di pundaknya yang bidang
“Bisakah kau melupakanku?” katanya tiba-tiba
“Andwe! Aku tak akan pernah bisa melupakanmu Junho-ya, aku...” belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku Junho menutup mulutku
“Tapi kau harus melupakanku, aku tak mau membuatmu menangis terus menerus” katanya sambil berdiri dan menginggalkanku
“Keundae... Junho-ya, JUNHO-YA!!!!!” aku berteriak dan terbangun dari mimpiku
Aku melihat Khun oppa telah berdiri di samping ranjangku, wajahnya terlihat sangat khawatir
“Haeyoung, wae?? Gwenchana??” ujar Khun oppa khawatir
“Nde, gwenchanayo. Hanya mimpi kok” kataku sambil mengusap keringat di kening ku
“Baiklah, sekarang kau tidur lagi ya” katanya sambil membelai kepalaku
“Nde” kataku sambil memejamkan mata
7 AM
Khun oppa mengantarku ke sekolah seperti biasanya, dia takut kalau aku tidak sampai sekolah dan aku malah pergi ke makam Junho. Karna ini pernah terjadi sekali saat Khun harus pergi lebih pagi dariku.
Beginilah aku sekarang, aku tak bisa melakukan apapun dengan benar, selalu saja aku merepotkan Khun oppa.
“Haeyoung-a.. “ seru Suzy girang
“Mhmm...” jawabku singkat
“Kau kenapa?? Ayolah senyum lagi, aku mulai kangen kamu yang cerwet, kamu yang ceria, kamu yang selalu heboh” katanya memohon
“Aku butuh waktu, gak akan semudah itu” kataku dingin
“Baiklah, aku kan membuatmu kembali seperti dulu lagi” tekadnya
“.....” aku pergi menuju kelasku

-WY’s POV-

Kulihat Haeyoung sedang bercakap-cakap dengan Suzy, dia seperti biasanya tetap dingin dan diam. Dia hanya berkata yang perlu saja, gak pernah lebih. “Aku harus tau tentangnya” tekadku. Aku berusaha bernegosiasi dengan Chansung yang duduk di depan Haeyoung.
“Ayolah Chansungie, sekali ini saja aku minta bantuanmu!” kataku memasang muka aegyo ku yang paling unyuu... (maaf ya..)
“Aishhh... jangan tunjukan muka itu lagi!!” Katanya histeris “Atau kau mau aku menyukaimu, hah??” lanjutnya jail
“Aishhh... kau lebih parah dariku ternyata, hoekkk” kataku sambil bergidig “Tapi kau maukan??”
“Baiklah, lagian aku juga ingin ganti suasana” ujarnya
“Gomawo Chansungie...” hampir saja aku memeluk Chansung, kalau dia tidak menghentikanku “Hehehe, mian mian, aku terlalu senang” sambil nyengir kuda
Haeyoung masih duduk di tempatnya dan tak menyadari aku duduk di depannya mengantikan Chansung, sepertinya ia memang tak tertarik dengan dunianya lagi.
“Ehmm.... boleh ku tahu namamu??” kataku ramah pada Haeyoung, dia tetap tak bergeming
Kulihat matanya sembab, sepertinya dia habis nangis. Matanya mulai berkaca-kaca lagi, dan aku kira dia akan mulai menangis lagi. Tapi sepertinya dia baru tak ingin menagis.
“Chogiyo...” kataku sambil melambai-lambaikan tanganku di depan wajahnya
“Ahh? Wae?? Nugu??” itulah kata pertama Haeyoung yang aku dengar (sebenarnya bukan, tapi maksudnya Haeyoung berbicara pada Wooyoung)
“Anii, boleh kita kenalan?? Aku murid baru di sini, dan aku belum mengenalmu, jadi boleh aku kenalan??” kataku sambil tersenyum seramah mungkin padanya
“Ahh, nde. Haeyoung, Song Haeyoung imnida” katanya singkat
“Joneun Jang Wooyoung imnida” dan itulah akhir pembicaraanku paa Haeyoung

Kurasa aku sudah tertarik padanya semenjak aku melihatnya menangis sambil memegang kalungnya.


note : mian bannernya jelek yahh, XDD

do leave a comment !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar